(Songfic) My Old Story

My Old Story|| Author: Hannayunisty ||Cast(s): Bae Suzy, Kim Myungsoo || Length: Oneshot| Genre: Sad, Romance, Hurt || Rating: PG-15

 22ec82b4ec98a4ebb9a0-1 copy

DISCLAIMER : fanfiction is made by me and this story is pure from my imagination. This fanfiction is 100 % mine and this story is only fiction.

 

–         2014 © Hannayunisty Fanfiction –

Warning !!!

–          Kalimat yang bercetak tebal dan miring adalah flashback

–          Semua POV adalah POV Suzy

–          Kalimat yang hanya bercetak tebal adalah POV author

 

 

Halo, apa kabarmu? Masih mengangakah lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia?

Maafkan aku, maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu.

-BSJ-

 

Itulah kutipan novelku yang terakhir. Novel yang membawaku sukses di Negara asing ini. Aku memang memimpikan hidup di kota ini. Kota Venice, yang terkenal dengan kanalnya yang indah.

“Bae, bagaimana kelanjutan novelmu yang sedang kau kerjakan itu?” aku menoleh kearah kananku, baru saja aku selesai membaca novelku ini. Aku memang sering membaca-baca kembali novel yang telah kutulis, untuk melihat kekurangan apalagi yang ada di tulisanku ini agar aku bisa memperbaiki untuk novelku selanjutnya.

“Oh Nona Park” sahutku membalas pertanyaan sahabatku ini

“Tsk, berhentilah memanggilku seperti itu! Kita sudah hidup bersama selama 6tahun”

“Astaga selama itukah kita hidup bersama? Ckck”

Aku dan Park Jiyeon memang hidup berdua di kota ini, 4 tahun kuliah bersama di Jepang dan 2 tahun kami masih bersama yang tentunya masih berada di luar Negara kelahiran kami. Baru 2 tahun juga aku menjadi penulis dan Jiyeon menjadi designer, selama ini kami survive dengan keadaan yang tak biasa kami rasakan di Seoul.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku”

“Aku bosan, sepertinya aku perlu suasana baru”

“eoddiseo? Rome? Atau kau mau pergi ke Amerika?” cerocos Jiyeon yang sudah mengerti

“Ani. Aku tau pasti Negara-negara di barat ini memiliki kebiasaan yang sama saja”

“Lalu?”

I want to back to my hometown”

“Mwo? Aku tak salah dengan kan?” Tanya Jiyeon yang terlihat begitu terkejut dengan jawabanku

A Dry Rose On Book“Ige. karena ini, aku ingin kembali. What a cildish I am, right?”  aku memperlihatkan buku lusuh yang didalamnya terselip mawar putih yang kering.

“ck, dasar penulis! Memang benar ya, hati seorang penulis itu begitu sensitive. Kau ingin ke Seoul karena ingin mencari inspirasi? Atau ingin bertemu dengan seseorang yang berhubungan dengan mawar kering ini eoh?” oceh Jiyeon

both of them” jawabku dengan mantap

“Masa lalumu kah? Cheossarang?” Tanya Jiyeon dengan nada yang mengejek. Aku hanya tersenyum lalu menganggukan kepalaku. Jiyeon hanya terkekeh, pasti dia meremehkanku lagi huh. Aku dan Jiyeon amat sangat berbeda, aku selalu menggunakan perasaan dalam menghadapi apapun sedangkan Jiyeon selalu memakai logikanya. Terkadang kami bertengkar hanya karena perbedaan pendapat, namun pada akhirnya Jiyeon selalu memahami pendapatku itu.

“Tapi mungkin aku tak bisa menemanimu kali ini”

“Aku pun tak akan memintamu untuk menemaniku”

“Tumben” ejeknya. “Ah geurae, aku mengerti untuk hal yang sedalam ini” lanjutnya yang langsung tersenyum

“Aigoo… aku hanya ingin sendiri dulu”

Aku memang selalu pergi kemanapun untuk mencari inspirasi dan Jiyeon pasti selalu ikut denganku namun kali ini rasanya aku ingin sendiri dulu. Rasanya akan lebih nyaman jika aku kembali kesana tanpa siapapun.

*****************************

Aku kembali membuka buku lama yang didalamnya terdapat mawar layu itu. Aku ingat, buku ini adalah buku catatan bahasa inggrisku sewaktu sekolah menengah. Mawar ini merupakan pemberian dari namja itu.

 

Tonight, tomorrow night and the night after that
I’ll wait forever

-KMSL-

 

Kertas yang berisikan kata-kata ini pun ikut menghantarkan mawar putih ini. Aku tak tahu kalau dia begitu pandai merayu wanita ckck.

KMSL? Kim Myungsoo … L?

Sampai saat ini pun aku tak tahu apa arti dari huruf L itu. Rasanya aku ingin sekali bertemu dengan namja childish itu. Aku tahu dia sangat menyukai game yang ada di ponselnya itu, maka dari itu aku sebut dia namja childish. Bahkan ketika kami berkencan pun dia masih saja memperhatikan game ular-ularannya itu

 

“Bae Suzy, kau mau kan pergi denganku?” Tanya lelaki putih itu dengan tatapannya yang terlihat begitu berharap

 

“Memangnya kau ingin mengajakku kemana?”

 

“Pasar malam. Disana kau bisa menaiki wahana permainan yang menyenangkan”

Permainan? Jadi aku hanya diajak untuk menemaninya bermain?

 

“Eothhe? Kau mau kan?”

 

“Geurae. Nanti aku akan menunggumu di jalan kecil dekat rumahku ya”

 

“oke, call” namja itu langsung berlari setelah aku menerima ajakannya itu. Apa aku yang terlalu berharap banyak? Aku kira dia akan mengajakku kencan, keundae dia hanya ingin aku menemaninya bermain di wahana pasar malam itu.

 

Malam ini, aku sudah siap dengan dress biru laut selututku untuk pergi bersama Myungsoo. Entah kenapa, aku begitu bahagia walaupun dia hanya mengajakku ke pasar malam. Suatu saat nanti, aku pasti akan mengutarakan perasaanku ini padanya.

The beautiful nights of the past when we were childish
I am still in love

Ternyata mengenang masa lalu itu bisa memberikan inspirasi yang begitu hebat, aku melanjutkan tulisanku ini. Mungkin novelku yang ini akan lebih sukses dari novelku sebelumnya. Biasanya cerita yang berasal dari kisah sebenarnya itu akan lebih mengundang para pembaca untuk ingin membacanya. Menurutku kisah yang klasik itu akan terlihat begitu berharga dari cerita apapun.

 

Gimpo Airport, 02.00 PM

I’m back!

Sudah 6 tahun aku pergi dari Negara kelahiranku ini. Apa semuanya masih sama seperti dulu? Apa semuanya masih bersahabat seperti dulu? Apakah dia masih mengingatku? Yupz, pertanyaan yang bagus untuk memulai hari pertamaku disini.

Oke … Bae Suzy, it’s time for your hidden love!

Aku memesan kamar di sebuah hotel untuk sebulan ini. Aku harap dengan waktu yang cukup lama ini, aku bisa menemukannya.

The first day, Rosemary street

Do you remember that lonely alleyway?
I still remember now

The anxious days when I couldn’t tell you I loved you
Did you know about that?

Aku ingat di hari itu, aku akan bertemu dengannya. Kali ini, aku yang mengajaknya terlebih dahulu dengan alasan ingin meminjam buku catatannya. Mungkin ini terdengar sangat klisye, tapi sungguh aku tak tahu harus beralasan apalagi untuk bisa menemuinya.

Sudah 20 menit aku menunggu di jalan kecil ini, apa dia tak ingat dengan janjinya itu ya? Ataukah aku harus menghubunginya?

Nihil, aku sudah menghubunginya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Dia tak mengangkat atau tak membalas panggilanku. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, aku telah menunggunya selama 2 jam. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?

Keesokan harinya, aku masih melihatnya berada di kelasnya. Seperti yang biasa aku lihat, dia selalu memegang ponselnya itu. Jika dia selalu bersama ponselnya itu harusnya semalam dia mengangkat teleponku…

“Suzy” sapa seseorang

“Oh Sungjong-ssi”

Sungjong adalah teman sekelasnya Myungsoo, sepertinya dia tahu apa maksud kehadiranku di depan kelasnya ini. Aku langsung pamit dengannya sebelum dia menanyakanku lebih lanjut.

Sudah seminggu, Myungsoo tak pernah menghampiriku lagi. Biasanya kami bertemu di taman sekolah, awal aku dekat dengannya karena sonsaengnim menyuruhku untuk bekerja sama dengannya dalam kompetisi menulis novel untuk tingkat sekolah menengah. Sonsaengnim menyuruhku untuk mendapatkan tulisan bahasa inggris yang benar darinya. Myungsoo terkenal begitu pintar di dalam pelajaran itu, berhubung novel yang ditulis itu harus berbahasakan bahasa asing jadinya sonsaengnim menyuruhku untuk bekerja sama dengannya.

Seminggu, dua minggu, sampai sebulan terakhir aku putus kontak dengan Myungsoo. Apa aku berbuat kesalahan? Apa dia tahu perasaanku yang sebenarnya? Oleh karena itu dia mulai menjauhiku karena dia hanya menganggapku sebagai teman …

 

You childish person
You try to take all of me, you heartless person

Kisah cinta pertamaku tak berjalan seperti apa yang kuharapkan, oleh karena itu aku menyesali semuanya. Menyesali kenapa aku harus mengenalnya sebagai cinta pertamaku, mungkin aku yang salah mengartikan sikap baiknya itu. Harapanku terlalu besar untuknya, hingga saat ini pun aku masih bisa merasakan sakitnya yang pernah aku alami itu. Entah apa yang bisa menghilangkan rasa sakit ini, mungkin dengan menuangkannya kedalam novelku aku bisa mengingatkan pada semua orang untuk tidak terlalu berharap banyak kepada apapun.

Aku pun tak bisa seenaknya menyalahkannya, disini siapapun tak ada yang bersalah. Perasaanku pun tak bisa aku salahkan, apa aku patut untuk menyalahkan sebuah takdir?

The seventh day

Sudah seminggu aku berada di Seoul dan sampai ini pun aku belum mengetahui keberadaanya tersebut.

Aku berjalan menelusuri taman yang dulu menjadi pasar malam yang pernah aku datangi bersama Myungsoo. Semuanya berubah, aku tak menyangka kalau Seoul bisa maju sepesat ini. Bahkan dunia K-POP telah mewabah ke seluruh dunia, tak jarang dengan ketenaran K-POP itu membuatku mendapatkan perlakuan baik di Negeri asing.

“Chogi”

“Ne, kau memanggilku?”

“Astaga… neo… Bae Suzy…” seru yoeja yang ada dihadapanku ini. Apa aku pernah mengenalnya? Sepertinya wajahnya tak asing bagiku tapi aku tak begitu ingat.

“Yaaa… kau tak mengenaliku eoh? Aku Jinri, Choi Jinri… teman sekelasmu dulu bahkan kita sering bermain bersama”

“Omo… Jinri-ya.. mian, aku kaget dengan perubahanmu kkkk. Kau terlihat sangat cantik, dulu kan kau sangat tomboy” aku ingat dulu Jinri selalu memotong pendek rambutnya sehingga aku sulit mengenalinya sekarang

“Semuanya berubah ya” ucapku memulai pembicaraan diantara kami berdua. Jinri mengajakku ke kedai kopi di dekat taman tersebut

“Tapi kau tak banyak berubah, masih cantik seperti dulu”

“Ck, kau bisa saja. Bagaimana kabarmu? Sekarang kau sedang sibuk apa?”

“Aku membuka wedding organizer, lumayan untuk mengisi kekosonganku sebagai istri

“Mwoya… kau sudah menikah?”

“Jangan salahkan aku jika aku tak mengundangmu, aku kehilangan kontakmu bahkan semua teman tak ada yang tahu keberadaanmu itu” jawab Jinri kesal. “Bahkan aku sampai menanyakanmu ke temanmu yang berada di kelas sebelah itu” lanjutnya. Teman kelas sebelah?

“Nugu?”

“Kim Myungsoo. Dulu ku lihat kau dekat dengannya, siapa tau saja dia tahu keberadaanmu jadi aku menanyakanmu kepadanya”

“Oh”

“Oh ya, kau beruntung sekali bisa datang sekarang. Aku baru ingat kalau Myungsoo menjadi client-ku”

Client?” tanyaku bingung

“Ne. client di WO-ku”

Aku menemukannya. Ya, aku menemukannya yang akan bersanding dengan orang lain. Apa yang kulakukan? Kenapa aku malah menangisi kebahagiannya itu.. Suzy pabo… seharusnya kau mensyukurinya… bukankah orang yang kau sayangi akan mendapatkan kebahagiannya dalam waktu yang dekat ini?

Were you too shy to say anything? Did you not like me?
I still can’t figure it out

Aku membuka kembali buku catatan b.inggrisku ini, rasanya naïf sekali jika aku terus mengingatnya. Seharusnya aku membuang kenangan ini, dia telah menemukan takdirnya dan aku malah terus memandangi pemberiannya ini. Mawar putih ini adalah pemberian terakhirnya sebelum dia pindah dari sekolah kami. Sebelumnya aku tak tahu kalau dia akan pindah, yang aku tahu dia ingin menemuiku dan menitipkan mawar ini kepada Sungjong. Pada malam itu, aku ingin menemuinya tapi eomma tiba-tiba meneleponku untuk menjemputnya di bandara. Aku tak mungkin tak menjemput eommaku, sudah lama aku tak bertemu dengannya… aku dengan orangtuaku tak tinggal bersama, mereka tinggal di Jepang semenjak aku duduk di sekolah menengah dan sementara aku tinggal dengan bibi Yoon -pengasuhku.

Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa Myungsoo telah pindah. Dan sampai saat ini pun aku belum pernah berhubungan dengannya lagi.

Aku berharap lagi, sewaktu itu aku berharap jika Myungsoo akan mengatakan cinta kepadaku. Dan sepertinya aku lagi-lagi menjadi orang yang selalu hidup dalam khayalan yang tinggi. Mungkin sewaktu itu, Myungsoo hanya akan berpamitan denganku.

Hari ke empat belas ini, aku akan mengunjungi sekolahku dulu. Aku ingin bernostalgia dengan tempat yang penuh dengan kenangan ini. Anggap saja aku sudah melupakan Myungsoo, aku hanya ingin mengingat-ingat kejadian yang pernah aku alami sebagai bahan untuk novelku.

Semuanya jelas sudah berubah, mungkin hanya aku saja yang tak pernah berubah. Aku masih senang dengan semua khayalanku, tulisan-tulisanku dan tentunya kenanganku.

Aku melihat kearah perpustakaan yang sering kami kunjungi lalu aku pergi ke taman yang sering kami tempati untuk mencari inspirasi untuk kompetisi novel itu. Bahkan aku bisa mengingat semuanya dengan jelas, aku yakin tak ada seorang pun yang sepertiku. Ternyata sulit bagiku, yang hanya menjadikan khayalan sebagai landasan hidupnya.

“Aigoo.. sejuknya” ungkap seorang namja yang berada di kursi taman tersebut, rasanya wajahnya tak begitu asing. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Perlahan namja itu menoleh kearahku dengan tatapan yang begitu kaget.

“OMO! BAE.. SUZY!”

“Sungjong-ssi?” ucapku memastikan bahwa namja itu adalah teman sekolahku

“Astaga… suatu keajaiban aku bisa bertemu denganmu disini”

 

“Bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan di taman sekolah ini?”

 

“Aku menjadi guru”

 

“Lalu kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?” ujar Sungjong

 

“Oh ..itu… aku.. ah, iya.. aku tadi kebetulan lewat jadi sekalian mampir, ingin tahu keadaan sekolah ini saja hehe” jawabku dengan gugup

 

“hoksi… kau ingin mengingat kenanganmu dengan Myungsoo eoh?” tanyanya tepat pada sasaran. “Aku tahu dia sekarang berada dimana” lanjutnya yang membuatku ingin menanyakan lebih lagi tentang namja itu

 

“Ne?”

 

“Seharusnya kalian bisa bersama”

 

“Maksudmu?”

 

“Myungsoo mengalami hidup yang sulit, dia harus menghidupi kakaknya yang sedang sakit. Oleh karena itu dulu dia sangat rajin, tiap pulang sekolah ia bekerja untuk mengajar di tempat les lalu malamnya dia bekerja di restoran siap saji”

 

“Bagaimana dengan orang tuanya?”

 

“Mereka sudah meninggal. Makanya dia pindah sekolah untuk mendatangi bibinya yang ada di Amerika”

 

“Kau tahu .. selama ini aku belum pernah menemukan orang sehebat temanku itu. Sampai kau datang ke kehidupannya, hidupnya sedikit berubah. Aku tahu setiap hari dia selalu bersemangat tapi aku melihat perbedaan saat kau mulai mendekatinya.”

“Naega? Apa aku mengganggu pekerjaannya?”

“Ani, hidupnya malah semakin bersemangat sampai ia yakin untuk meninggalkan Korea. Sedari dulu dia disuruh bibinya untuk tinggal dengan bibinya tapi ia tak pernah mau.” Ujar Sungjong lalu sambil menghela nafasnya. “Dia tidak yakin jika kakaknya bisa sembuh, dia sudah berputus asa. Keundae semenjak kau datang, dia seperti diberi doping olehmu.”

“Bisa kau berikan alamat Myungsoo kepadaku? Jebal…” aku sedikit memohon padanya

“Aku tak bisa, mian.”

“Apa karena dia akan menikah?” tanyaku yang sudah meneteskan air mataku

“Kau sudah tahu?”

Aku menganggukan kepalaku sambil menghapus air mataku. “Aku tak akan mengganggunya, aku hanya ingin bertemu dengannya”

“Baiklah, tapi kau harus menepati perkataanmu itu” Lalu Sungjong menuliskan alamat Myungsoo dan memberikannya kepadaku. Sungjong segera pergi namun aku menahannya

“Ada yang ingin kutanyakan lagi kepadamu. Dulu, kenapa Myungsoo tak datang sewaktu aku memintanya untuk bertemu dan malah menjauhi sampai dia memintaku bertemu di hari sebelum ia akan pindah?”

“Bukan hakku untuk membeitahukan hal itu. Kau bisa tanyakan sendiri kepadanya” jawab Sungjong yang kemudian pergi dari hadapanku.

Dua hari kemudian, aku pergi untuk mendatangi alamat yang Sungjong berikan. Aku melihat seorang yoeja yang sedang berdiri di halaman rumah tersebut. Apakah dia calon istrinya?

“Annyeong haseyo” sapaku. Dia membalas dengan memberikan senyumannya. Dia segera menghampiriku dan membukakan pintu gerbang rumah tersebut.

“Ada yang bisa kubantu? Apa kau mencari seseorang?”

Gadis ini begitu cantik, sangat serasi dengan Myungsoo. Apa aku pantas untuk datang di kehidupan mereka? Bagaimana jika aku tiba-tiba datang dan bisa merusak semua rencana mereka? Aku tak mungkin menyakiti gadis ini dan juga Myungsoo. Aku tak mau menjadi penghalang dari separuh mimpi Myungsoo.

“Oh mian, sepertinya aku salah alamat. Aku permisi”

“Noona, kenapa kau ada diluar? Bukankah Ji Hoon hyung akan segera datang eoh? Apa kau sudah menyiapkan semuanya?” Tanya seorang namja yang keluar dari pintu rumah tersebut sambil membelai rambut kakaknya itu.

 

“Tadi ada yang kemari, sepertinya dia mencari seseorang”

 

“Apa kau menanyakan namanya?”

 

“Ani. Keundae.. sepertinya dia sedang dalam keadaan tidak baik”

 

“Maksud noona?”

 

“Setelah melihatku, dia seperti akan menangis. Tapi rasanya aku tak pernah mengenali gadis cantik itu”

 

“Myungsoo-ah, sebaiknya kau menyusul gadis tadi. Aku takut terjadi sesuatu padanya di jalan”

 

“Geurae. Kalau begitu noona masuk saja dulu, jangan kemana-mana sebelum aku datang”

Aku tadi sempat melihat punggung dari gadis yang dibicarakan Tae Hee noona. Dia sangat mirip dengannya, tapi apa mungkin kalau gadis itu adalah dirinya? Pikir Myungsoo sebelum menjalankan mobilnya tersebut.

 

Aku bersembunyi di samping rumah Myungsoo, aku melihatnya keluar dan membelai lembut gadis tersebut. Entah apa yang dibicarakan mereka, yang jelas aku sudah tahu kalau saat ini Myungsoo sangat bahagia dengan gadis cantik itu. Sudah tak ada alasan lagi untuk aku menetap di Negara ini.

Selamat tinggal, Kim Myungsoo …

Terimakasih untuk semua kenangan yang sempat kau berikan …

Terimakasih karena telah mengijinkanku untuk memasuki kehidupanmu yang menakjubkan …

Aku pun akan mencari kebahagiaanku sendiri …

Pagi ini terlihat seorang namja yang sedang mendatangi sebuah sekolah menengah tersebut. Kim Myungsoo, namja itu sedang mencari salah satu temannya yang berada dikawasan itu.

 

“Annyeong, Myungsoo. Ada apa kau mencariku?”

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa dia berada di kota ini?” Tanya Myungsoo to the point

“Apa Suzy sudah ke rumahmu?”

“Jadi dia benar ada disini?” Tanya myungsoo tak sabar

“Myungsoo-ah, tak semestinya kau seperti ini”

“Aku sudah lama mencarinya, dan kau pun tahu akan hal itu. Ayolah… aku ingin sekali mengatakan semuanya”

“Yaa… neo! Bagaimana dengan perasaan calon istrimu itu eoh? Apa kau tak punya hati? Kau sudah menyakiti Suzy dan sekarang kau akan menyakiti calonmu itu? Aku tak menyangka kau bisa sejahat itu. Bukankah kau memiliki noona, bagaimana kalau dia disakiti dengan namja yang semodel dirimu itu? Harusnya kau merasakan juga perasaan seorang wanita!” cerocos Sungjong yang membuat Myungsoo menyerngitkan dahinya

“Apa ada kesalahpahaman disini? Calon istri? Maksudmu apa? Siapa yang akan menikah?”

“Ne? bukankah kau akan menikah. Dulu, kau menanyakan kontak Jinri teman sekolah kita yang memiliki WO itu kan? Lalu saat aku tanya untuk apa, kau hanya menjawab untuk pernikahan seseorang yang kusayangi. Bukankah itu berarti bahwa itu adalah pernikahan kekasihmu yang berarti pernikahanmu juga?”

“Aigoo… Sungjong pabo… bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu eoh? Apa Suzy bertemu denganmu dan kau menceritakan kalau aku akan menikah?”

“Myungsoo-ah… mianhae… ah eothhoke? Aku telah menyakitinya”

“Aku janji aku akan membantumu untuk mencarinya” Lanjut Sungjong yang merasa bersalah

 

Besok aku akan kembali ke Venice, sudah cukup waktuku untuk sesuatu yang tak akan ada hasilnya itu. Aku kembali untuk mencoba melupakan semua yang ada di Seoul, aku kembali untuk mencari kebahagiaanku sendiri.

Sebelum pergi ke Venice, aku akan bertemu dengan Jinri hari ini. Tadi Jinri menelponku untuk memintaku bertemu dengannya di kantornya itu.

Jinri menyambutku dengan baik, lalu ia mempersilahkanku duduk di ruang tamu yang biasa dipersiapkan untuk para client-nya tersebut.

“Aku akan pulang besok”

“Wae? Kau yakin? Bukankah kau bilang akan menetap satu bulan? Bahkan ini baru 3 minggu. Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa kau telah bertemu Myungsoo?”

“Gwenchana, aku harus segera menyelesaikan novelku. Tentang Myungsoo, aku tak ada niat untuk bertemu dengannya”

“Jangan begitu. Aku baru ingat dulu Myungsoo selalu menanyakanmu, maka dari itu aku berniat untuk mempertemukanmu dengannya disini hehe”

“Ne? aku tidak mau…. Aku akan pergi” aku segera beranjak pergi tanpa menghiraukan Suzy yang berteriak memanggilku. Aku sudah bertekad untuk melupakannya.

 

Suzy tak bisa melangkahkan kakinya itu, sepasang tangan namja telah menahan lengannya dengan kuat. Suzy menoleh dan langsung terkejut melihat seseorang yang berada disampingnya itu.

“Apa kau ingin menghindar dariku?”

“Myung..sso”

“Ikut denganku, ada yang harus kita selesaikan”

“Aku tak ada urusan denganmu. Lepaskan tanganku, Myungsoo-ssi”

“Kau harus menjelaskan kenapa kau tak datang malam itu!”

“Myungsoo… lepaskan… appo” myungsoo tak menghiraukan erangan Suzy yang sakit

 

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa lagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah jelas, aku hanyalah masa lalunya yang tak akan bisa menjadi masa depannya itu.

“Aku tak akan menikah” ujarnya setelah dia melepaskan tangannya itu dan mengajakku ke taman yang dulu menjadi pasar malam itu. Kami duduk di sebuah bangku panjang yang ada di dalam taman tersebut. Aku masih belum berani menatap matanya itu, aku takut jika aku tak akan sanggup untuk melupakannya.

“Kau membatalkannya? Kau membatalkannya karena aku?”

Dia hanya tersenyum, dan seenaknya meneloyor kepalaku

“Yoeja pabo! Kau seharusnya masuk ke rumahku lalu menanyakannya dengan baik-baik”

“Yang akan menikah itu noonaku, aku hanya mengurus pernikahannya saja.”

“Lalu kenapa dulu kau tak datang menemuiku dna menjauhiku?” ucapku yang masih kesal dengan perlakuannya dulu

Dia mengarahkanku untuk menatap kedua matanya itu. “Aku harus merawat kakakku, aku tak mungkin meninggalkannya sendirian. Aku tak ada niat sedikitpun untuk menjauhimu, aku sedikit demi sedikit membenahi hidupku dari mulai mengobati kakakku sampai pada akhirnya aku ke Amerika dan berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan yoeja khayalan ini”

“Jinjja?” myungsoo menganggukkan kepalanya dengan mantap

“sekarang kau puas?” tanyanya dengan mencubit kedua pipiku. “Lalu bisakah kau menjelaskan kenapa kau tak datang pada malam itu?”

“Eommaku memintaku untuk menjemputnya di bandara”

“emm… jadi begitu. Lalu sekarang apa yang seharusnya kita lakukan?”

“Maksudmu?”

“Apakah aku harus menciummu dan mengatakan …. Maukah kau menjadi masa depanku?”

Aigoo… pipiku memanas… rasanya seperti mendapat reward diatas panggung dan aku tak tahu harus berbuat apa

Myungsoo menangkup kedua pipiku dan perlahan mulai mendekati wajahku, aku tak sanggup melihat matanya yang tajam itu… aku menutup kedua mataku sampai kurasakan kecupan lembut yang menempel di dahiku..

“Jadilah penyemangatku … Jadilah sumber kebahagiaanku … saranghae, Bae Suzy”

Aku tak kuasa menahan air mataku, aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung menjatuhkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan jantungnya yang begitu berdetak cepat, sama seperti apa yang kurasakan kini.

 

FIN

 

 anyyeong readers… mianhae author sudah menghilang cukup lama, untuk saat ini author ga akan buat FF dulu. ini juga buatnya cuma asal-asalan doang gara2 kepincut sama suaranya IU sama MV nya yang nyesek hehe. mohon doanya aja ya buat readers, author lagi nyusun skripsi dulu… yg udah pada UN, semoga pada lulus dg nilai yang memuaskan ya, selamat menempuh kehidupan baru di dunia yang lebih menantang hihi…

ditunggu komennya = ]

 

 

 

 

Advertisements

61 responses to “(Songfic) My Old Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s